Rabu, 07 Oktober 2020

Teks Anekdot Kelas X Semester Ganjil

 



1.      PENGERTIAN

Teks anekdot merupakan sebuah karangan cerita atau kisah  yang bisa jadi ditulis berdasarkan pengalaman hidup seseorang secara singkat, pendek, lucu, mengkritik, dan menyindir. Teks anekdot ini biasanya bertopik pendidikan, politik, hukum, sindiran, kritikan, dan sebagainya. Anekdot ini cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat. Jadi, ceritanya belum tentu terjadi.

Dalam teks anekdot, ceritanya tidak hanya berisikan kisah-kisah lucu, melainkan juga amanat, pesan moral, serta ungkapan tentang suatu kebenaran secara umum. Anekdot bisa saja sesingkat pengaturan dan provokasi dari sebuah kelakar. Anekdot selalu disajikan berdasarkan pada kejadian nyata dengan melibatkan orang-orang yang sebenarnya.

 

2.      TUJUAN

Tidak semua cerita lucu termasuk dalam jenis teks anekdot. Contohnya, lawak. Lawak mengandung unsur lucu, tetapi lawak bukan merupakan anekdot. Lawak dan anekdot memang memiliki unsur lucu, namun memiliki tujuan yang berbeda. Lawak bertujuan menghibur semata, sedangkan anekdot bertujuan mengkritik atau menyindir suatu hal bahkan seseorang. Teks anekdot ini sering kita jumpai di media massa baik cetak maupun elektronik.

 

3.      KARAKTERISTIK

ü  Mengandung unsur lucu, tetapi tidak semua cerita lucu atau berunsur komedi termasuk cerita anekdot.

ü  Mengandung unsur kritikan

ü  Bersifat menyindir

 

4.      STRUKTUR

Secara umum, teks anekdot terdiri atas lima bagian sebagai berikut.

a.      Abstraksi

Bagian awal cerita yang berfungsi memberi gambaran tentang isi teks. Biasanya menunjukkan hal unik yang akan ada di dalam teks. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP. Di bagian awal cerita berisi tentang suasana kelas perkuliahan hukum pidana. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang merberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas pada saat itu biasa-biasa saja.

 

b.     Orientasi

Bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita atau latar belakang bagaimana peristiwa terjadi. Biasanya penulis bercerita dengan detail di bagian ini. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP. Di bagian ini, bercerita dengan asal mula konflik terjadi karena ulah Ali yang bertanya pada Pak Dosen. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Saat sesi tanya jawab tiba, Ali bertanya kepada Pak Dosen, “Apa kepanjangan KUHP, Pak?”

 

c.       Krisis

Bagian yang berisi terjadi hal atau masalah yang unik atau tidak biasa yang terjadi pada tokoh cerita. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP. Di bagian ini, bercerita tentang masalah terjadi, yaitu ketika Pak Dosen malah melempar pertanyaan Ali kepada mahasiswa lain sehingga terjadilah jawaban yang tidak terduga. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Pak Dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta Pak Dosen. Dengan tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara, Pak.”

 

d.     Reaksi

Bagian bagaimana cara penulis atau orang yang ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian krisis tadi. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP.  Di bagian ini, bercerita tentang penyelesaian berupa respons mahasiswa terhadap jawaban Ahmad. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan Pak Dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban itu?”

 

e.      Koda

Bagian akhir dari sebuah cerita anekdot. Biasanya berisi kesimpulan tentang kejadian yang dialami oleh tokoh dalam cerita tersebut. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP.  Di bagian tersebut, diceritakan simpulan dari permasalahan yang ada, yaitu Ahmad membeberkan dari mana ia mengetahui jawaban seperti itu sehingga mahasiswa lain tertawa sekilas dan kelas pun menjadi normal kembali. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Dasar Ahamd, pertanyaan Pak Dosen dijawabnya dengan tegas, “Peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru terbaik, Pak.” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal.

 

5.      ASPEK KEBAHASAAN

a.      Kata Kias

Kata kias atau konotasi adalah kata yang tidak memiliki makna sebenarnya. Antonimnya adalah denotatif yang berarti kata yang memiliki makna sebenarnya. Kata kias biasanya berupa ungkapan dan peribahasa. Perbedaannya dijelaskan sebagai berikut.

ü  Ungkapan adalah kelompok kata yang khusus digunakan untuk menyatakan sesuatu.

Contoh: daun muda bermakna gadis

ü  Peribahasa adalah kalimat yang memiliki makna kias atau konotatif.

Contoh: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian bermakna bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

 

b.     Kalimat Sindiran

Kalimat sindiran dalam teks anekdot diungkapkan dengan pengandaian, perbandingan, dan lawan kata (antonim). Perhatikan contoh berikut.

ü  Sindiran dengan pengandaian

Peristiwa yang terjadi di Indonesia diandaikan jika terjadi di negeri lain.

ü  Sindiran dengan perbandingan

Badannya semakin lama semakin kurus seperti es lilin.

ü  Sindiran dengan antonim

Orang pintar dikatakan bodoh dan orang bodoh dikatakan pintar.

 

c.       Pertanyaan Retoris

Pertanyaaan retoris adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.

Contoh: Apakah kita tega membiarkan mereka kelaparan?

 

d.     Konjungsi

Konjungsi adalah kata hubung. Konjungsi yang sering digunakan dalam teks anekdot adalah konjungsi temporal, kata hubung yang merujuk pada keterangan waktu dan konjungsi kausalitas, kata hubung yang merujuk pada hubungan sebab akibat. Berikut penjelasan lebih rincinya.

ü  Konjungsi Temporal

Setelah, lalu, kemudian, sebelumnya, sesudahnya, ketika, saat, dsb.

 

ü  Konjungsi Kausalitas

Maka, karena, sebab, oleh karena itu, sehingga, dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar