Sabtu, 24 Oktober 2020

Cerita Hikayat Kelas X Semester Ganjil

 

A.     APA ITU CERITA RAKYAT?

Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang secara tradisional di kalangan masyarakat tanpa diketahui siapa pengarang cerita tersebut. Cerita rakyat ini berbentuk prosa, yaitu sebuah karangan bebas. Cerita rakyat berkembang secara lisan yang tersebar dari mulut ke telinga masyarakat dan terjadi secara turun temurun.

Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari cerita rakyat adalah sebagai berikut:

ü  Disampaikan secara lisan, yaitu tersebar dari mulut ke telinga.

ü  Bersifat anonim, yaitu tidak diketahui secara pasti pengarang cerita rakyat tersebut.

ü  Milik bersama, yaitu masyarakat setempat secara kolektif (komunal) menganggap cerita rakyat yang berkembang di daerah mereka sebagai milik mereka sendiri sehingga mereka pun dapat memahami secara rinci cerita-cerita tersebut.

ü  Memiliki banyak nilai kehidupan, yaitu kejadian yang bisa terjadi berfungsi sebagai bahan pembelajaran. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut.

-          Nilai ketuhanan        à berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta.

-          Nilai religi                   à berkaitan dengan aturan-aturan yang berhubungan antara manusia dengan Tuhan.

-          Nilai moral                 à berkaitan dengan masalah baik buruk dan etika antarmanusia.

-          Nilai budaya              à berkaitan dengan hubungan adat istiadat, bahasa, dan kepercayaan suatu masyarakat.

-          Nilai sosial                  à berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dalam bersosialisasi.

-          Nilai pendidikan      à berkaitan dengan ajaran yang terkandung dalam sebuah cerita.

 

B.     JENIS-JENIS CERITA RAKYAT

Cerita rakyat tergolong prosa lama karena bersifat anonim. Prosa dalam satra lama sendiri ada bermacam-macam, antara lain fabel, dongeng, legenda, mitos, dan hikayat. Berikut penjelasannya.

ü  Fabel adalah jenis cerita rakyat yang tokoh atau pelaku atau pemeran dalam ceritanya adalah binatang. Contoh: Si Kancil, Ulat yang Sombong, dll.

ü  Dongeng adalah jenis cerita rakyat bersifat fantasi atau imajinasi yang tidak benar-benar terjadi. Biasanya berkaitan dengan para peri atau bidadari. Contoh: Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, Cinderella, dll.

ü  Legenda adalah jenis cerita rakyat yang berhubungan dengan peristiwa sejarah sehingga di masa kini memiliki bukti nyata (wujud) sebagai peninggalan. Contoh: Tangkuban Perahun, Candi Prambanan, dll.

ü  Mitos adalah jenis cerita rakyat yang mengandung unsur keajaiban , antara lain dewa, roh halu, dan hal-hal gaib. Contoh: Dewi Nawang Wulan, Joko Tarub, dll.

ü  Hikayat adalah jenis cerita rakyat yang memiliki pengaruh Arab sehingga memiliki tokoh-tokoh dengan kesaktian yang dimiliki dan diceritakan dalam bahasa Melayu Klasik. Contoh: Hikayat Galuh Gantung, Hikayat Petani, dll.

 

C.      KARAKTERISTIK HIKAYAT

Hikayat berasal dari bahasa Arab, yakni Haka yang mempunyai arti bercerita atau menceritakan. Hikayat merupakan salah satu jenis cerita rakyat atau prosa lama. Hikayat ini terkadang menyerupai cerita sejarah yang isinya hal-hal tidak masuk akal dan penuh keajaiban. Hikayat mulai berkembang pada masa Melayu Klasik sehingga hampir semua kata yang digunakan menggunakan bahasa Melayu Klasik yang terkadang susah untuk dimengerti maknanya. Fungsi dari hikayat adalah sebagai pembangkit semangat, penghibur, atau pelipur lara, atau hanya untuk meramaikan suatu pesta.

Karakteristik cerita rakyat tentunya dimiliki oleh semua jenis cerita rakyat. Selain itu, hikayat pun mempunyai beberapa karakteristik sehingga bisa dibedakan dengan cerita rakyat lainnya. Berikut penjelasannya.

ü  Mengandung kemustahilan, baik dari segi gaya bahasa maupun ceritanya. Misal, seorang putri yang terlahir dari sebuah gendang.

ü  Tokoh utama memiliki kesaktian, tokoh-tokoh dalam cerita hikayat sering kali diceritakan memiliki kesaktian yang mandraguna. Misal, seorang pendekar yang mengalahkan elang raksasa dengan begitu mudahnya.

ü  Istana sentris, kisah-kisah dalam hikayat sering kali tentang lingkup kerajaan atau ada sangkut pautnya dengan sebuah kerajaan. Hal tersebut disebabkan oleh cerita hikayat yang berkembang melalui lisan dan terjadi secara turun-temurun.

ü  Alur cerita berbingkai, terkadang dalam sebuah cerita hikayat terkandung lagi sebuah cerita. Namun, tidak semua cerita hikayat memiliki alur yang berbingkai. Hal itu menyebabkan pembaca merasa rumit memahami cerita, tapi di sisi lain bisa menambah pengetahuan pembaca terkait kisah yang ada.

ü  Berbahasa Melayu Klasik, hal ini disebebkan hikayat yang mulai berkembang pada masa Melayu Klasik sehingga hampir semua kata yang digunakan menggunakan bahasa Melayu Klasik.

 

D.     CONTOH HIKAYAT

Hikayat Petani

 

  Inilah suatu kisah yang diceritakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu. Adapun raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana. Maka Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya Tu Antara. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub Mahajana pun matilah. Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan ayahanda baginda itu. Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa. Selama Paya Tu Naqpa kerajaan itu sentiasa ia pergi berburu. 

 

Pada suatu hari Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawai hulubalang dan rakyat sekalian. Arkian maka titah baginda: "Aku dengar khabarnya perburuan sebelah tepi laut itu terlalu banyak konon." Maka sembah segala menteri: "Daulat Tuanku, sungguhlah seperti titah Duli Yang Mahamulia itu, patik dengar pun demikian juga." Maka titah Paya Tu Naqpa: "Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat kita. Esok hari kita hendak pergi berburu ke tepi laut itu." Maka sembah segala menteri hulubalangnya: "Daulat Tuanku, mana titah Duli Yang Mahamulia patik junjung." Arkian setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalangnya diiringkan oleh rakyat sekalian. Setelah sampai pada tempat berburu itu, maka sekalian rakyat pun berhentilah dan kemah pun didirikan oranglah. Maka baginda pun turunlah dari atas gajahnya semayam didalam kemah dihadap oleh segala menteri hulubalang rakyat sekalian. Maka baginda pun menitahkan orang pergi melihat bekas rusa itu. Hatta setelah orang itu datang menghadap baginda maka sembahnya: "Daulat Tuanku, pada hutan sebelah tepi laut ini terlalu banyak bekasnya." Maka titah baginda: "Baiklah esok pagi-pagi kita berburu"

 

                Maka setelah keesokan harinya maka jaring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka segala rakyat pun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu dari pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh. Maka baginda pun amat hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan anjing perburuan baginda sendiri itu. Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah. Hatta ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak. Maka baginda pun segera mendapatkan suara anjing itu. Setelah baginda datang kepada suatu serokan tasik itu, maka baginda pun bertemulah dengan segala orang yang menurut anjing itu. Maka titah baginda: "Apa yang disalak oleh anjing itu?" Maka sembah mereka sekalian itu: "Daulat Tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang. Itulah yang dihambat oleh anjing itu. Maka pelanduk itu pun lenyaplah pada pantai ini."

 

                Setelah baginda mendengar sembah orang itu, maka baginda pun berangkat berjalan kepada tempat itu. Maka baginda pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini duduk merawa dan menjerat. Maka titah baginda suruh bertanya kepada orang tua itu, dari mana datangnya maka ia duduk kemari ini dan orang mana asalnya. Maka hamba raja itu pun menjunjungkan titah baginda kepada orang tua itu. Maka sembah orang tua itu: "Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada kebawah Duli Yang Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. Maka pada masa Paduka Nenda berangkat pergi berbuat negeri ke Ayutia, maka patik pun dikerah orang pergi mengiringkan Duli Paduka Nenda berangkat itu. Setelah Paduka Nenda sampai kepada tempat ini, maka patik pun kedatangan penyakit, maka patik pun ditinggalkan oranglah pada tempat ini." Maka titah baginda: "Apa nama engkau?". Maka sembah orang tua itu: "Nama patik Encik Tani." Setelah sudah baginda mendengar sembah orang tua itu, maka baginda pun kembalilah pada kemahnya.Dan pada malam itu baginda pun berbicara dengan segala menteri hulubalangnya hendak berbuat negeri pada tempat pelanduk putih itu. 


                Setelah keesokan harinya maka segala menteri hulubalang pun menyuruh orang mudik ke Kota Maligai dan ke Lancang mengerahkan segala rakyat hilir berbuat negeri itu. Setelah sudah segala menteri hulubalang dititahkah oleh baginda masingmasing dengan ketumbukannya, maka baginda pun berangkat kembali ke Kota Maligai. Hatta antara dua bulan lamanya, maka negeri itu pun sudahlah. Maka baginda pun pindah hilir duduk pada negeri yang diperbuat itu, dan negeri itu pun dinamakannya Patani Darussalam (negeri yang sejahtera). Arkian pangkalan yang di tempat pelanduk putih lenyap itu (dan pangkalannya itu) pada Pintu Gajah ke hulu Jambatan Kedi, (itulah. Dan) pangkalan itulah tempat Encik Tani naik turun merawa dan menjerat itu. Syahdan kebanyakan kata orang nama negeri itu mengikut nama orang yang merawa itulah. Bahwa sesungguhnya nama negeri itu mengikut sembah orang mengatakan pelanduk lenyap itu. Demikianlah hikayatnya.

 

 

 

E.      UNSUR-UNSUR DALAM PROSA

1.      Tema

Tema dalam cerita hikayat biasanya hampir sama, yakni tentang perjuangan seorang pahlawan kerajaan hingga akhir masa kejayaannya, percintaan antara raja dan permaisuri, dsb. Sedangkan tema dalam prosa baru (cerpen) temanya lebih variatif, seperti keluarga, percintaan, persahabatan, agama, dsb.

 

2.      Latar

Latar dibagi menjadi tiga, yakni waktu, tempat, dan suasana. Latar pada hikayat cenderung terjadi di lingkup istana, sedangan dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif.

 

3.      Tokoh

Pada hikayat, tokoh/pemeran/pelaku ceritanya terbatas pada orang-orang kerajaan, seperti raja, ratu, permaisuri, pangeran, rakyat jelata, dsb. Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif dengan penamaan para tokohnya yang semakin modern.

 

4.      Penokohan

Penokohan pada hikayat bersifat mutlak, yang baik akan seterusnya baik hingga akhir hayat atau cerita. Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif dan bersifat dinamis yang artinya bisa berubah-ubah.

 

5.      Alur

Pada hikayat, alur yang digunakan selalu alur maju. “Pada suatu hari”, “Pada zaman dahulu kala”, atau “cerita masa lalu” tidak berarti cerita tersebut beralur mundur. Sebuah alur cerita dapat dilihat dari urutan kejadiannya. Apabila pengenalan-konflik-klimaks-solusi urut, dapat dikatakan alur maju. Apabila muncul konflik lebih dulu daripada pengenalan, dapat dikatakan alur mundur. Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif berupa alur maju, mundur, maupun campuran keduanya.

 

6.      Sudut Pandang

Pada hikayat, sudut pandang yang digunakan selalu orang ketiga atau dia yang maha tau karena hikayat yang bersifat anonim. Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif menggunakan orang pertama (aku/saya) dan orang ketiga (dia atau nama orang) karena prosa baru diketahui siapa pengarang ceritanya..

 

7.      Gaya Bahasa

Pada hikayat, gaya bahasa yang digunakan bersifat statis, yakni menggunakan arkais (klise), seperti syahdan, hatta, alkisah, pada suatu hari. Selain, hikayat juga menggunakan majas yang baku dan konsisten. Sedangakan, dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif dengan bersifat dinamis, yakni mengikuti perkembangan zaman. Majas yang baku tidak selalu digunakan.

 

8.      Amanat

Amanat dalam hikayat biasanya ditulis secara eksplisit (tersirat/kesimpulan pribadi). Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) ditulis tidak selalu secara eksplisit, bahkan cenderung implisit (tersurat/tertulis).

Rabu, 14 Oktober 2020

Ceramah Kelas XI Semester Ganjil

 


1.     PENGERTIAN

Dalam kamus besar bahasa Indonesia ceramah adalah pidato yang dilakukan oleh seseorang di hadapan banyak pendengar mengenai suatu hal pengetahuan dan sebagainya. Saat melakukan ceramah penceramah berkewajiban mengarahkan pendengar untuk memahami sungguh-sungguh masalah yang disampaikan kegiatan ceramah biasanya diahiri dengan tanya jawab.

Ceramah adalah kegiatan menyampaikan sesuatu kepada orang lain dengan maksud agar orang yang mendengar ceramah mengetahui dan memperoleh sesuatu yang berharga dari isi ceramah yang disampaikan. Ceramah biasanya disampaikan pada acara tertentu, misalnya kegiatan sekolah Penyuluhan-Penyuluhan di kantor atau masyarakat.

 

2.     JENIS

Ceramah dibagi menjadi dua jenis yaitu ceramah umum dan cerama khusus. Perhatikan penjelasannya sebagai berikut.

Ceramah umum adalah pidato yang bertujuan untuk memberikan nasehat kepada khalayak umum atau masyarakat luas. Ceramah umumnya bersifat menyeluruh tidak ada batasan apapun baik dari pendengar yang tua maupun yang Muda materinya juga tidak ditentukan sesuai dengan acara.

Ceramah khusus adalah ceramah yang bertujuan memberikan nasiihat-nasihat kepada khalayak tertentu dan bersifat khusus baik dari materi maupun yang lainnya. Dalam ceramah khusus, banyak batasan batasan antara lain kriteria pendengar dan materi harus menyesuaikan dengan para penggemar pendengar yang akan ikut serta dalam acara tersebut.

 

3.     STRUKTUR

Struktur dalam teks drama terdiri atas pembuka isi dan penutup.

a.      Pembuka

Bagian ini merupakan awal dari teks ceramah. Seperti teks teks yang lain terutama teks eksposisi, pembuka mengenalkan isu masalah ataupun pandangan pembicara tentang sesuatu dalam topik yang akan dibahas. Bagian pembuka ini dapat disebut juga dengan tesis. Sebagai contoh dalam sebuah ceramah mengenai topik moral remaja masa kini. Perhatikan contoh analisis struktur teks drama berikut ini.

Belakangan ini ramai di berbincang kan di televisi surat kabar jejaring sosial internet serta berbagai media yang lain mengenai moral remaja masa kini ada begitu banyak permasalahan yang terjadi di dunia remaja saat ini hal hal tersebut yang membuat sebagian besar orang tua mengelus dada dan tidak habis pikir mengapa terjadi penurunan moral moral remaja masa kini coba kita lihat kasus kasus pemakaian narkoba tawuran pencurian bahkan pembunuhan dilakukan oleh kaum remaja tidak sedikit diantara mereka yang mempunyai tingkat pendidikan baik berasal dari keluarga yang bekerja hidup berkecukupan bahkan tidak sedikit diantara mereka merupakan tokoh publik yang diidolakan oleh banyak remaja.

 

b.     Isi

Bagian ini merupakan rangkaian argumen atau pendapat yang disampaikan oleh pembicara mengenai topik yang diangkat menjadi bahan materi ceramah. Bagian ini saling berkaitan dengan bagian sebelumnya yaitu tesis atau pembuka. Pada bagian ini argumen argumen atau pendapat pendapat pembicara diperkuat dengan fakta yang ada. Sebagai contoh dalam sebuah ceramah bertopik moral remaja masa kini pada bagian isi dibahas mengenai argumen pembicara tentang peranan orang tua dalam membina mendidik serta membentuk karakter para remaja. Perhatikan contoh analisis teks drama berikut ini.

Peranan orang tua dalam membina mendidik serta membentuk karakter para remaja sangatlah dominan. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara orang tua dan anak. Ini berarti bahwa orang tua harus bisa memberikan pengertian serta berperan sebagai pengayom anak anak mereka sehingga para anak merasa nyaman dan terlindungi. Bila hal ini telah terjadi, maka mereka tidak akan mencari tempat yang mereka anggap nyaman di luar rumah karena bisa jadi tempat yang mereka anggap nyaman tersebut merupakan pergaulan yang salah sehingga bisa mempengaruhi karakter dan mental anak di masa yang akan datang. Selain itu, berikanlah pendidikan agama sedini mungkin sejak masih usia kanakkanak. Pendidikan agama merupakan fondasi utama yang bisa dijadikan pegangan dalam melakukan semua hal. Menciptakan rasa takut kepada Tuhan merupakan hal yang sangat penting karena bila remaja sudah tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhan apapun yang mereka lakukan sudah pasti akan menyimpang dari norma dan akidah yang berlaku di masyarakat.

 

c.      Penutup

Penutup bisa juga disebut dengan penegasan ulang. Bagian ini berisi simpulan atau rangkuman rangkuman sebagai hasil Penalaran dari pernyataan pernyataan sebelumnya. Sebagai contoh dalam sebuah ceramah bertema moral remaja masa kini di bagian penutup berisikan simpulan sebagai hasil Penalaran dari penjelasan sebelumnya hal tersebut ditandai oleh kata kata berupa saran yang disertai pula sejumlah alasannya. Perhatikan contoh analisis teks ceramah berikut ini.

Kita tidak boleh berhenti untuk tetap berusaha menyelamatkan mental dan moral para generasi muda kita. Dengan memberikan fondasi agama yang kuat serta memberikan kasih sayang kepada para generasi muda, bisa dipastikan tidak akan terjadi lagi penurunan moral para remaja sehingga kita akan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik dapat hidup dengan lebih nyaman serta terjaminnya masa depan negara tercinta ini.

 

4.     ASPEK KEBAHASAAN

a.       Menggunakan kata ganti orang pertama dalam kurung tunggal dan kata ganti orang kedua Jamak sebagai Sapaan kata ganti orang pertama seperti saya atau aku kata kami apabila penceramah mengatasnamakan kelompok.

b.      Menggunakan kata Sapaan yang ditujukan pada orang banyak seperti hadirin bapak-bapak/ibu-ibu kalian dan saudara-saudara.

c.       Menggunakan kata-kata yang merujuk hubungan argumentasi atau sebab-akibat. Seperti sebab karena dengan demikian jika akibatnya dan oleh karena itu. Selain itu, dapat pula digunakan kata-kata yang menyatakan hubungan temporal atau perbandingan dan pertentangan seperti sebelum itu, pada akhirnya, sebaliknya, kemudian, berbeda halnya, dan namun.

d.      Menggunakan kata kata teknis atau peristilahan yang berkenan dengan topik yang dibahas dengan topik tentang masalah kebahasaan yang menjadi fokus pembahasan nya. Istilah yang muncul dalam teks tersebut adalah sarkastis, etika berbahasa, dan kesantunan berbahasa.

e.       Menggunakan kata kata persuasif atau ajakan seperti sebaiknya diharapkan perlu hendak lah harus

f.        Menggunakan kata kerja mental seperti memprihatinkan mengagumkan diharapkan memperkirakan menduga berpendapat menyimpulkan dan ber asumsi.

Rabu, 07 Oktober 2020

Teks Anekdot Kelas X Semester Ganjil

 



1.      PENGERTIAN

Teks anekdot merupakan sebuah karangan cerita atau kisah  yang bisa jadi ditulis berdasarkan pengalaman hidup seseorang secara singkat, pendek, lucu, mengkritik, dan menyindir. Teks anekdot ini biasanya bertopik pendidikan, politik, hukum, sindiran, kritikan, dan sebagainya. Anekdot ini cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat. Jadi, ceritanya belum tentu terjadi.

Dalam teks anekdot, ceritanya tidak hanya berisikan kisah-kisah lucu, melainkan juga amanat, pesan moral, serta ungkapan tentang suatu kebenaran secara umum. Anekdot bisa saja sesingkat pengaturan dan provokasi dari sebuah kelakar. Anekdot selalu disajikan berdasarkan pada kejadian nyata dengan melibatkan orang-orang yang sebenarnya.

 

2.      TUJUAN

Tidak semua cerita lucu termasuk dalam jenis teks anekdot. Contohnya, lawak. Lawak mengandung unsur lucu, tetapi lawak bukan merupakan anekdot. Lawak dan anekdot memang memiliki unsur lucu, namun memiliki tujuan yang berbeda. Lawak bertujuan menghibur semata, sedangkan anekdot bertujuan mengkritik atau menyindir suatu hal bahkan seseorang. Teks anekdot ini sering kita jumpai di media massa baik cetak maupun elektronik.

 

3.      KARAKTERISTIK

ü  Mengandung unsur lucu, tetapi tidak semua cerita lucu atau berunsur komedi termasuk cerita anekdot.

ü  Mengandung unsur kritikan

ü  Bersifat menyindir

 

4.      STRUKTUR

Secara umum, teks anekdot terdiri atas lima bagian sebagai berikut.

a.      Abstraksi

Bagian awal cerita yang berfungsi memberi gambaran tentang isi teks. Biasanya menunjukkan hal unik yang akan ada di dalam teks. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP. Di bagian awal cerita berisi tentang suasana kelas perkuliahan hukum pidana. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Seorang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang merberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas pada saat itu biasa-biasa saja.

 

b.     Orientasi

Bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita atau latar belakang bagaimana peristiwa terjadi. Biasanya penulis bercerita dengan detail di bagian ini. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP. Di bagian ini, bercerita dengan asal mula konflik terjadi karena ulah Ali yang bertanya pada Pak Dosen. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Saat sesi tanya jawab tiba, Ali bertanya kepada Pak Dosen, “Apa kepanjangan KUHP, Pak?”

 

c.       Krisis

Bagian yang berisi terjadi hal atau masalah yang unik atau tidak biasa yang terjadi pada tokoh cerita. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP. Di bagian ini, bercerita tentang masalah terjadi, yaitu ketika Pak Dosen malah melempar pertanyaan Ali kepada mahasiswa lain sehingga terjadilah jawaban yang tidak terduga. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Pak Dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta Pak Dosen. Dengan tegas Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara, Pak.”

 

d.     Reaksi

Bagian bagaimana cara penulis atau orang yang ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian krisis tadi. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP.  Di bagian ini, bercerita tentang penyelesaian berupa respons mahasiswa terhadap jawaban Ahmad. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan Pak Dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban itu?”

 

e.      Koda

Bagian akhir dari sebuah cerita anekdot. Biasanya berisi kesimpulan tentang kejadian yang dialami oleh tokoh dalam cerita tersebut. Sebagai contoh, dalam cerita berjudul KUHP.  Di bagian tersebut, diceritakan simpulan dari permasalahan yang ada, yaitu Ahmad membeberkan dari mana ia mengetahui jawaban seperti itu sehingga mahasiswa lain tertawa sekilas dan kelas pun menjadi normal kembali. Perhatikan kutipannya berikut ini!

Dasar Ahamd, pertanyaan Pak Dosen dijawabnya dengan tegas, “Peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru terbaik, Pak.” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal.

 

5.      ASPEK KEBAHASAAN

a.      Kata Kias

Kata kias atau konotasi adalah kata yang tidak memiliki makna sebenarnya. Antonimnya adalah denotatif yang berarti kata yang memiliki makna sebenarnya. Kata kias biasanya berupa ungkapan dan peribahasa. Perbedaannya dijelaskan sebagai berikut.

ü  Ungkapan adalah kelompok kata yang khusus digunakan untuk menyatakan sesuatu.

Contoh: daun muda bermakna gadis

ü  Peribahasa adalah kalimat yang memiliki makna kias atau konotatif.

Contoh: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian bermakna bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

 

b.     Kalimat Sindiran

Kalimat sindiran dalam teks anekdot diungkapkan dengan pengandaian, perbandingan, dan lawan kata (antonim). Perhatikan contoh berikut.

ü  Sindiran dengan pengandaian

Peristiwa yang terjadi di Indonesia diandaikan jika terjadi di negeri lain.

ü  Sindiran dengan perbandingan

Badannya semakin lama semakin kurus seperti es lilin.

ü  Sindiran dengan antonim

Orang pintar dikatakan bodoh dan orang bodoh dikatakan pintar.

 

c.       Pertanyaan Retoris

Pertanyaaan retoris adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.

Contoh: Apakah kita tega membiarkan mereka kelaparan?

 

d.     Konjungsi

Konjungsi adalah kata hubung. Konjungsi yang sering digunakan dalam teks anekdot adalah konjungsi temporal, kata hubung yang merujuk pada keterangan waktu dan konjungsi kausalitas, kata hubung yang merujuk pada hubungan sebab akibat. Berikut penjelasan lebih rincinya.

ü  Konjungsi Temporal

Setelah, lalu, kemudian, sebelumnya, sesudahnya, ketika, saat, dsb.

 

ü  Konjungsi Kausalitas

Maka, karena, sebab, oleh karena itu, sehingga, dsb.