A. APA ITU CERITA RAKYAT?
Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang secara tradisional di kalangan
masyarakat tanpa diketahui siapa pengarang cerita tersebut. Cerita rakyat ini
berbentuk prosa, yaitu sebuah karangan bebas. Cerita rakyat berkembang secara
lisan yang tersebar dari mulut ke
telinga masyarakat dan terjadi secara turun temurun.
Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari cerita
rakyat adalah sebagai berikut:
ü Disampaikan secara
lisan, yaitu tersebar dari mulut ke telinga.
ü
Bersifat anonim, yaitu tidak diketahui secara pasti pengarang cerita rakyat
tersebut.
ü
Milik bersama, yaitu masyarakat setempat secara kolektif (komunal) menganggap
cerita rakyat yang berkembang di daerah mereka sebagai milik mereka sendiri
sehingga mereka pun dapat memahami secara rinci cerita-cerita tersebut.
ü
Memiliki banyak nilai kehidupan, yaitu kejadian yang bisa terjadi berfungsi
sebagai bahan pembelajaran. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut.
-
Nilai ketuhanan à berkaitan dengan hubungan
antara manusia dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
-
Nilai religi à berkaitan dengan aturan-aturan
yang berhubungan antara manusia dengan Tuhan.
-
Nilai moral à berkaitan dengan masalah
baik buruk dan etika antarmanusia.
-
Nilai budaya à berkaitan dengan hubungan
adat istiadat, bahasa, dan kepercayaan suatu masyarakat.
-
Nilai sosial à berkaitan dengan hubungan
antara manusia dengan manusia lainnya dalam bersosialisasi.
-
Nilai pendidikan à berkaitan dengan ajaran
yang terkandung dalam sebuah cerita.
B. JENIS-JENIS CERITA RAKYAT
Cerita rakyat tergolong prosa lama karena bersifat anonim. Prosa dalam
satra lama sendiri ada bermacam-macam, antara lain fabel, dongeng, legenda,
mitos, dan hikayat. Berikut penjelasannya.
ü Fabel adalah jenis cerita rakyat yang tokoh atau pelaku atau pemeran dalam
ceritanya adalah binatang. Contoh: Si
Kancil, Ulat yang Sombong, dll.
ü Dongeng adalah jenis cerita rakyat bersifat fantasi atau imajinasi yang tidak
benar-benar terjadi. Biasanya berkaitan dengan para peri atau bidadari. Contoh:
Putri Salju dan Tujuh Kurcaci,
Cinderella, dll.
ü Legenda adalah jenis cerita rakyat yang berhubungan dengan peristiwa sejarah
sehingga di masa kini memiliki bukti nyata (wujud) sebagai peninggalan. Contoh:
Tangkuban Perahun, Candi Prambanan, dll.
ü Mitos adalah jenis cerita rakyat yang mengandung unsur keajaiban , antara lain
dewa, roh halu, dan hal-hal gaib. Contoh: Dewi
Nawang Wulan, Joko Tarub, dll.
ü Hikayat adalah jenis cerita rakyat yang memiliki pengaruh Arab sehingga memiliki
tokoh-tokoh dengan kesaktian yang dimiliki dan diceritakan dalam bahasa Melayu
Klasik. Contoh: Hikayat Galuh Gantung,
Hikayat Petani, dll.
C.
KARAKTERISTIK HIKAYAT
Hikayat berasal dari
bahasa Arab, yakni Haka yang
mempunyai arti bercerita atau menceritakan. Hikayat merupakan salah satu jenis
cerita rakyat atau prosa lama. Hikayat ini terkadang menyerupai cerita sejarah
yang isinya hal-hal tidak masuk akal dan penuh keajaiban. Hikayat mulai
berkembang pada masa Melayu Klasik sehingga hampir semua kata yang digunakan menggunakan
bahasa Melayu Klasik yang terkadang susah untuk dimengerti maknanya. Fungsi dari
hikayat adalah sebagai pembangkit semangat, penghibur, atau pelipur lara, atau
hanya untuk meramaikan suatu pesta.
Karakteristik cerita
rakyat tentunya dimiliki oleh semua jenis cerita rakyat. Selain itu, hikayat pun
mempunyai beberapa karakteristik sehingga bisa dibedakan dengan cerita rakyat
lainnya. Berikut penjelasannya.
ü Mengandung kemustahilan, baik dari segi gaya bahasa maupun ceritanya. Misal, seorang putri yang
terlahir dari sebuah gendang.
ü
Tokoh utama memiliki
kesaktian, tokoh-tokoh dalam cerita hikayat sering kali diceritakan memiliki kesaktian
yang mandraguna. Misal, seorang pendekar yang mengalahkan elang raksasa dengan
begitu mudahnya.
ü
Istana sentris, kisah-kisah dalam
hikayat sering kali tentang lingkup kerajaan atau ada sangkut pautnya dengan
sebuah kerajaan. Hal tersebut disebabkan oleh cerita hikayat yang berkembang melalui
lisan dan terjadi secara turun-temurun.
ü
Alur cerita berbingkai, terkadang dalam sebuah
cerita hikayat terkandung lagi sebuah cerita. Namun, tidak semua cerita hikayat
memiliki alur yang berbingkai. Hal itu menyebabkan pembaca merasa rumit
memahami cerita, tapi di sisi lain bisa menambah pengetahuan pembaca terkait
kisah yang ada.
ü Berbahasa Melayu Klasik, hal ini disebebkan hikayat yang mulai berkembang pada masa Melayu Klasik
sehingga hampir semua kata yang digunakan menggunakan bahasa Melayu Klasik.
D. CONTOH HIKAYAT
Hikayat Petani
Inilah suatu
kisah yang diceritakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani
Darussalam itu. Adapun raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana.
Maka Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai
anakanda baginda itu Paya Tu Antara. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub
Mahajana pun matilah. Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan
ayahanda baginda itu. Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa. Selama Paya Tu Naqpa
kerajaan itu sentiasa ia pergi berburu.
Pada suatu hari Paya Tu
Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawai
hulubalang dan rakyat sekalian. Arkian maka titah baginda: "Aku dengar
khabarnya perburuan sebelah tepi laut itu terlalu banyak konon." Maka sembah
segala menteri: "Daulat Tuanku, sungguhlah seperti titah Duli Yang
Mahamulia itu, patik dengar pun demikian juga." Maka titah Paya Tu Naqpa:
"Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat kita. Esok hari kita hendak
pergi berburu ke tepi laut itu." Maka sembah segala menteri hulubalangnya:
"Daulat Tuanku, mana titah Duli Yang Mahamulia patik junjung." Arkian
setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun berangkatlah dengan
segala menteri hulubalangnya diiringkan oleh rakyat sekalian. Setelah sampai
pada tempat berburu itu, maka sekalian rakyat pun berhentilah dan kemah pun
didirikan oranglah. Maka baginda pun turunlah dari atas gajahnya semayam
didalam kemah dihadap oleh segala menteri hulubalang rakyat sekalian. Maka
baginda pun menitahkan orang pergi melihat bekas rusa itu. Hatta setelah orang
itu datang menghadap baginda maka sembahnya: "Daulat Tuanku, pada hutan
sebelah tepi laut ini terlalu banyak bekasnya." Maka titah baginda:
"Baiklah esok pagi-pagi kita berburu"
Maka
setelah keesokan harinya maka jaring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka
segala rakyat pun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan
itu dari pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari, seekor perburuan tiada
diperoleh. Maka baginda pun amat hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan
anjing perburuan baginda sendiri itu. Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah.
Hatta ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu
menyalak. Maka baginda pun segera mendapatkan suara anjing itu. Setelah baginda
datang kepada suatu serokan tasik itu, maka baginda pun bertemulah dengan
segala orang yang menurut anjing itu. Maka titah baginda: "Apa yang
disalak oleh anjing itu?" Maka sembah mereka sekalian itu: "Daulat
Tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada seekor pelanduk putih, besarnya
seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang. Itulah yang dihambat oleh
anjing itu. Maka pelanduk itu pun lenyaplah pada pantai ini."
Setelah
baginda mendengar sembah orang itu, maka baginda pun berangkat berjalan kepada
tempat itu. Maka baginda pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini
duduk merawa dan menjerat. Maka titah baginda suruh bertanya kepada orang tua
itu, dari mana datangnya maka ia duduk kemari ini dan orang mana asalnya. Maka
hamba raja itu pun menjunjungkan titah baginda kepada orang tua itu. Maka
sembah orang tua itu: "Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada
kebawah Duli Yang Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. Maka
pada masa Paduka Nenda berangkat pergi berbuat negeri ke Ayutia, maka patik pun
dikerah orang pergi mengiringkan Duli Paduka Nenda berangkat itu. Setelah
Paduka Nenda sampai kepada tempat ini, maka patik pun kedatangan penyakit, maka
patik pun ditinggalkan oranglah pada tempat ini." Maka titah baginda:
"Apa nama engkau?". Maka sembah orang tua itu: "Nama patik Encik
Tani." Setelah sudah baginda mendengar sembah orang tua itu, maka baginda
pun kembalilah pada kemahnya.Dan pada malam itu baginda pun berbicara dengan
segala menteri hulubalangnya hendak berbuat negeri pada tempat pelanduk putih
itu.
Setelah
keesokan harinya maka segala menteri hulubalang pun menyuruh orang mudik ke
Kota Maligai dan ke Lancang mengerahkan segala rakyat hilir berbuat negeri itu.
Setelah sudah segala menteri hulubalang dititahkah oleh baginda masingmasing
dengan ketumbukannya, maka baginda pun berangkat kembali ke Kota Maligai. Hatta
antara dua bulan lamanya, maka negeri itu pun sudahlah. Maka baginda pun pindah
hilir duduk pada negeri yang diperbuat itu, dan negeri itu pun dinamakannya
Patani Darussalam (negeri yang sejahtera). Arkian pangkalan yang di tempat
pelanduk putih lenyap itu (dan pangkalannya itu) pada Pintu Gajah ke hulu
Jambatan Kedi, (itulah. Dan) pangkalan itulah tempat Encik Tani naik turun
merawa dan menjerat itu. Syahdan kebanyakan kata orang nama negeri itu mengikut
nama orang yang merawa itulah. Bahwa sesungguhnya nama negeri itu mengikut
sembah orang mengatakan pelanduk lenyap itu. Demikianlah hikayatnya.
E.
UNSUR-UNSUR DALAM PROSA
1.
Tema
Tema dalam cerita hikayat biasanya hampir sama, yakni tentang perjuangan
seorang pahlawan kerajaan hingga akhir masa kejayaannya, percintaan antara raja
dan permaisuri, dsb. Sedangkan tema dalam prosa baru (cerpen) temanya lebih
variatif, seperti keluarga, percintaan, persahabatan, agama, dsb.
2.
Latar
Latar dibagi menjadi tiga, yakni waktu, tempat, dan suasana. Latar pada
hikayat cenderung terjadi di lingkup istana, sedangan dalam prosa baru (cerpen)
lebih variatif.
3.
Tokoh
Pada hikayat, tokoh/pemeran/pelaku ceritanya terbatas pada orang-orang
kerajaan, seperti raja, ratu, permaisuri, pangeran, rakyat jelata, dsb.
Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif dengan penamaan para
tokohnya yang semakin modern.
4.
Penokohan
Penokohan pada hikayat bersifat mutlak, yang baik akan seterusnya baik
hingga akhir hayat atau cerita. Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) lebih
variatif dan bersifat dinamis yang artinya bisa berubah-ubah.
5.
Alur
Pada hikayat, alur yang digunakan selalu alur maju. “Pada suatu hari”, “Pada
zaman dahulu kala”, atau “cerita masa lalu” tidak berarti cerita tersebut
beralur mundur. Sebuah alur cerita dapat dilihat dari urutan kejadiannya. Apabila
pengenalan-konflik-klimaks-solusi urut, dapat dikatakan alur maju. Apabila
muncul konflik lebih dulu daripada pengenalan, dapat dikatakan alur mundur. Sedangkan,
dalam prosa baru (cerpen) lebih variatif berupa alur maju, mundur, maupun
campuran keduanya.
6.
Sudut Pandang
Pada hikayat, sudut pandang yang digunakan selalu orang ketiga atau dia
yang maha tau karena hikayat yang bersifat anonim. Sedangkan, dalam prosa baru
(cerpen) lebih variatif menggunakan orang pertama (aku/saya) dan orang ketiga
(dia atau nama orang) karena prosa baru diketahui siapa pengarang ceritanya..
7.
Gaya Bahasa
Pada hikayat, gaya bahasa yang digunakan bersifat statis, yakni menggunakan
arkais (klise), seperti syahdan, hatta, alkisah, pada suatu hari. Selain,
hikayat juga menggunakan majas yang baku dan konsisten. Sedangakan, dalam prosa
baru (cerpen) lebih variatif dengan bersifat dinamis, yakni mengikuti
perkembangan zaman. Majas yang baku tidak selalu digunakan.
8.
Amanat
Amanat dalam hikayat biasanya ditulis secara eksplisit (tersirat/kesimpulan
pribadi). Sedangkan, dalam prosa baru (cerpen) ditulis tidak selalu secara
eksplisit, bahkan cenderung implisit (tersurat/tertulis).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar