Sabtu, 11 September 2021

Teks Editorial Kelas XII Semester Ganjil

A.     PENGERTIAN

Editorial atau tajuk rencana adalah pendapat redaksi media cetak terhadap suatu isu atau masalah aktual isu tersebut meliputi masalah politik sosial ataupun ekonomi teks Editorial secara teratur muncul di koran atau majalah walaupun berisi pendapat pribadi dalam mengungkapkan pendapat harus dilengkapi dengan fakta bukti bukti dan alasan yang logis agar dapat diterima oleh pembaca atau pendengar.

Teks Editorial pada umumnya bersifat aktual yang berisi analisis objektif berdasarkan fakta dan data dengan serentetan argumentasi yang disajikan penulis berusaha mempengaruhi dan meyakinkan orang lain sebagai pembaca teks Editorial ini kerap mengungkapkan penilaian atau saran terhadap sesuatu atau kebijakan sup jek dalam memutuskan sesuatu teks Editorial merupakan opini atau pendapat redaksi media cetak terhadap persoalan aktual fenomenal atau kontroversial yang berkembang di masyarakat.

Teks Editorial biasanya mengungkapkan adanya informasi atau masalah aktual penegasan pentingnya masalah opini redaksi tentang masalah tersebut kritik dan saran atas permasalahan dan harapan redaksi akan peran serta pembaca opini yang ditulis pihak redaksi di asumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap media yang bersangkutan berbeda dengan artikel opini yang ditulis membaca sebuah teks Editorial tidak mencantumkan nama penulisnya karena merupakan suara lembaga atau Instansi dari media cetak tersebut sendiri.

 

B.     FUNGSI

Fungsi teks Editorial adalah kritik atas ketimpangan yang terjadi dalam suatu masyarakat dan memberikan Wawasan pandangan pada masyarakat atas permasalahan yang sedang hangat di dalam teks Editorial terdapat fakta dan opini. Fakta dalam teks Editorial adalah hal hal faktual atau terkini yang diambil dari peristiwa atau gejala tertentu di masyarakat. Sedangkan, opini dalam teks Editorial adalah argumen atau tanggapan atau pendapat redaksi terhadap peristiwa atau gejala yang dijadikan pokok pembicaraan dalam teks Editorial.

Keberadaan teks Editorial dalam suatu surat kabar majalah buletin atau tabloid memiliki tingkat kepentingan sebagai berikut.

1.      Teks Editorial bertujuan memberikan penjelasan berita terpenting pada penerbitan tersebut

2.      Teks Editorial berfungsi memberikan latar belakang yang mendalam mengenai permasalahan yang dibicarakan

3.      Suatu persoalan yang menyangkut kepentingan bersama dengan menempatkan pada perspektif sejarah sehingga ada korelasi atau hubungan yang komprehensif dengan berita berita yang terpisah

4.      Teks Editorial merupakan prediksi atau perkiraan redaktur akan peristiwa peristiwa yang akan terjadi

5.      Teks Editorial merupakan pandangan redaktur penerbitan pers yang berkaitan dengan nilai moral dan hati nurani.

 

C.      KARAKTERISTIK

 

1.      Berisi opini redaksi tentang peristiwa yang sedang hangat dibicarakan.

2.      Berisi ulasan tentang suatu masalah yang dimuat.

3.      Bersekala nasional namun berita internasional juga dapat menjadi Editorial apabila berita tersebut memberi dampak kepada nasional.

4.      Tertuang pikiran subyektif dari redaksi.

 

D.     STRUKTUR

Berikut adalah struktur teks editorial.

1.     Pernyataan Pendapat

Pernyataan pendapat merupakan sebuah gagasan utama sekaligus menjadi prediksi penulis tentang permasalahan yang tengah beredar yang ditulis berdasarkan fakta yang ada pernyataan pendapat berisikan topik tentang sebuah permasalahan yang akan dibahas.

2.     Argumentasi

Argumentasi merupakan pendukung yang akan memperkuat opini yang hendak disampaikan pada bagian ini penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa apa yang dikemukakan itu benar argumentasi dapat ditandai dengan adanya kalimat yang memuat pendapat Sang penulis tentang permasalahan yang tengah terjadi dan menjadi topik kepincangan pada bagian argumentasi juga harus disertai fakta yang menunjang untuk memperkuat aku mentasi nya argumentasinya.

 

 

3.     Simpulan

Simpulan merupakan bagian akhir teks Editorial yang berisi simpulan dari pendapat yang telah dikemukakan pada bagian ini umumnya kita bisa menambahkan pernyataan berupa kritik dan saran agar opini penulis dapat terbukti semakin kuat.

 

E.      ASPEK KEBAHASAAN

Berikut adalah beberapa aspek kebahasaan yang sering dijumpai dalam teks editorial.

1.     Konjungsi

Konjungsi atau kata penghubung adalah sekumpulan kata yang berfungsi menghubungkan kelompok kata dengan kata lain kalimat dengan kalimat Klausa dengan kau lah usaha serta sebuah paragraf dengan paragraf lain contoh kata penghubung diantaranya dan karena tetapi ketika walaupun meskipun oleh karena itu.

Dalam teks Editorial konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan paragraf dengan paragraf agar tercipta argumentasi yang saling berhubungan hal ini ditandai dengan adanya kata pertama kedua selanjutnya dan terakhir umumnya sebuah konjungsi juga menyatakan sebuah ikatan antara sebab dan akibat harapan dan sebagainya

Contoh:

Akibatnya SKM menjadi isu yang membingungkan dan merasakan sebagian warga masyarakat.

2.     Kata Keterangan

Kata keterangan merupakan kata yang menunjukkan keterangan suatu peristiwa kata keterangan yang kerap digunakan adalah keterangan waktu dan keterangan tempat.

Contoh

Akhir akhir ini pembicaraan Prihal susu kental manis di tengah masyarakat kita telah berkembang ke berbagai arah.

 

 

3.     Kata Kerja

Kata kerja rasional berfungsi menghubungkan sup jek dan kalimat Pelengkap sebuah kalimat verbal nasional haruslah memiliki Pelengkap karena jika tidak maka bunyi kalimat akan terdengar rancu

Contoh:

Pemerintah harus belajar banyak dari kasus isu SKM ini.

Kata kerja material menunjukkan adanya aktivitas fisik yang terjadi dan dapat dilihat karena bersifat nyata contoh kata kerja ini adalah membaca, menulis, menari, bernyanyi.

F.      CONTOH BACAAN

Karut-marut Informasi Publik di Balik Susu Kental Manis

 

Hari-hari ini pembicaraan perihal susu kental manis (SKM) di tengah masyarakat kita telah berkembang ke berbagai arah. Akibatnya SKM menjadi isu yang membingungkan dan bahkan meresahkan sebagian warga masyarakat.

Isu SKM bukan lagi dibicarakan dalam kaitannya dengan cara mereka beriklan. Banyak di antara kita yang turut bingung dan resah dengan pertanyaan apakah SKM tergolong susu-–seperti halnya jenis susu lain-–berupa bubuk maupun cairan yang dikemas dan diperjualbelikan? Apakah susu terkandung di dalam SKM?

Isu itu bergerak ke soal kesehatan. Apakah SKM baik untuk kesehatan? Apakah SKM tidak terkait dengan masalah kesehatan dan gizi orang yang mengonsumsinya? Atau, SKM tidak baik untuk kesehatan? Malah, isu SKM juga berkembang ke wilayah bisnis. Tidakkah isu ini terkait dengan persaingan usaha?

Rembetan isu, disertai dengan sejumlah pertanyaan--yang belum terlalu jelas jawabannya--tersebut sangat mungkin membingungkan dan meresahkan publik. Bahkan, banyak di antara kita lupa awal berkembangnya isu SKM tersebut. Berapa banyak orang masih ingat bahwa isu SKM dimulai pada awal tahun ini ketika beredar kabar bayi yang menderita gizi buruk karena orang tuanya mengandalkan SKM sebagai asupan untuk bayinya?

Awal Januari lalu tersiar kabar tentang dua bayi yang didiagnosa menderita busung lapar, yang dirawat di Rumah Sakit Bahteramas Kendari, Sulawesi Tenggara. Salah satu penyebab gizi buruk Adam Syahputra dan Arinsandi-–nama kedua bayi itu--adalah asupan yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Kedua bayi itu sering diberi SKM oleh masing-masing orang tuanya karena harga SKM lebih terjangkau ketimbang susu bayi.

Tak lama berselang, jumlah bayi yang menderita gizi buruk, karena hanya mendapatkan asupan SKM dari orang tuanya, di Sulawesi Tenggara dilaporkan bertambah. Ada nama Muharam yang masih berumur 4 bulan dan Rasyad yang berumur 2 tahun. Belakangan Arisandi dikabarkan meninggal.

Kasus gizi buruk para bayi inilah yang memicu perhatian publik tertuju ke SKM. Kasus tersebut menunjukkan bahwa masih banyak orang tua yang menganggap asupan apapun yang diberi label “susu” akan selalu cocok menjadi asupan bergizi bagi anak-anaknya. Sekaligus, kasus itu juga menunjukkan bahwa anggapan tersebut sangat keliru.

Seharusnya, dari kasus tersebut, pemerintah berfokus untuk mencari jalan keluar atas anggapan-anggapan keliru itu: mengapa masih ada orang tua yang mempunyai anggapan yang keliru seperti itu? Apakah mereka tidak cukup mendapat informasi? Apakah produsen SKM tidak memberikan informasi bahwa produknya tidak diperuntukan sebagai asupan bergizi bagi bayi? Apakah kurangnya ekspose informasi tersebut disengaja ataukah tidak oleh produsen?

Dari pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya pemerintah bisa segera menyusun langkah nyata sebagai solusi atas persoalan tersebut ke dua arah. Pertama, memastikan publik-–terutama para orang tua--mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai asupan bergizi dan jenis susu yang cocok buat bayi. Kedua, memastikan para produsen SKM memberikan informasi yang memadai dan mudah ditemukan, pula perihal kandungan dan peruntukan produknya.

Sayang sekali--dan bukan untuk pertama kalinya--pemerintah tidak cukup responsif mengelola informasi yang dibutuhkan oleh publik dengan segera. Betapa buruknya pemerintah dalam mengelola informasi dan pengetahuan publik sangat terlihat dalam kasus ini.

Pihak yang pertama merespons kasus gizi buruk terkait SKM tersebut adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM) baru merespons belakangan.

Kemenkes dan BPOM bahkan dipandang memberikan informasi yang berbeda kepada publik. Di satu pihak, Kemenkes mengingatkan bahwa SKM mengandung kadar gula yang tinggi yang melebihi kebutuhan gula anak-anak dan tidak cocok untuk anak-anak di bawah 3 tahun. Di pihak lain, BPOM menyatakan SKM tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan namun tidak menyinggung perihal kadar gula di dalamnya.

Perbedaan informasi itu saja sudah cukup untuk membuat publik bingung dan resah; apalagi disusul dengan pernyataan Kemenkes yang meminta agar BPOM untuk lebih memperhatikan produk kental manis dan tidak mengkategorikannya sebagai produk bernutrisi untuk menambah gizi.

Publik semakin bingung dan resah dengan pemberitaan media yang menyebutkan bahwa SKM tidak mengandung padatan susu. Pernyataan Kementerian Perindustrian yang menyebutkan SKM aman untuk dikonsumsi bukan membuat publik lebih tentram.

Dengan cepat dan mudah publik bisa membaca ketidakkompakan pemerintah dalam mengelola informasi seputar isu SKM itu menyiratkan kepentingan masing-masing bagian. Dengan begitu, sangat wajar jika publik merasa dipermainkan dalam urusan yang sangat penting menyangkut kesehatan keluarganya. Meskipun masih terasa, kebingungan dan keresahan publik atas isu SKM sudah mereda. Penjelasan terbaru BPOM perihal SKM jauh lebih jelas dan terarah ketimbang sebelumnya.

Langkah-langkah lanjutan masih diperlukan untuk memastikan seluruh warga masyarakat kita mempunyai pengetahuan yang benar dan memadai mengenai susu, asupan bayi, dan SKM. Bersamaan itu sejumlah larangan terkait label dan iklan SKM harus dipastikan benar-benar dijalankan agar publik tidak tersesat dalam mengambil keputusan mengonsumsinya. Pemerintah harus belajar banyak dari kasus isu SKM ini. Buruknya pengelolaan informasi dan pengetahuan publik bisa berakibat sangat fatal.

Sumber bacaan: https://beritagar.id/artikel/editorial/karut-marut-informasi-publik-di-balik-susu-kental 

Sabtu, 13 Maret 2021

Teks Biografi Kelas X Semester Genap

 

A.     PENGERTIAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), biografi adalah riwayat hidup yang ditulis oleh orang lain. Secara etimologis,  biografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang berarti hidup dan graphien yang berarti tulis. Dapat disimpulkan, biografi adalah tulisan tentang hidup seseorang yang berisi identitas tokoh sejak kecil sampai tua, bahkan sampai meninggal, jasa-jasanya, buah karya, dan segala sesuatu yang dihasilkan di dalam buku tersebut. Membaca biografi dapat memberikan manfaat, mulai dari mengetahui hal yang menarik dan mengesankan dari perjalanan hidup tokoh hingga pembelajaran dari pengalaman hidup sang tokoh.

Berdasarkan sisi penulisnya, teks biografi dibagi menjadi dua jenis. Pertama, autobiografi adalah teks biografi yang ditulis oleh tokoh itu sendiri. Kedua adalah teks biografi yang ditulis oleh orang lain. Isi teks biografi antara lain memuat pengalaman hidup tokoh, kelebihan, kekurangan, dan hal-hal lainnya yang bisa menginspirasi banyak orang.

B.     KARAKTERISTIK

Secara umum, teks biografi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

-          Memiliki struktur yang terdiri atas orienstasi, peristiwa (masalah), dan reorientasi.

-          Berisi informasi faktual (berdasarkan fakta sebenarnya) .

-          Disajikan dalam bentuk narasi (cerita paragraf).

-          Berisi pengalaman hidup seseorang.

 

C.      STRUKTUR

Berikut struktur teks biografi.

1.     Orientasi

Orentasi pada teks biografi sama dengan orientasi pada teks narasi. Bagian ini merupakan awal cerita, di dalamnya menjelaskan tentang pengenalan tokoh, asal tokoh, dan gambaran awal tokoh yang diceritakan dalam biografi.

Dalam contoh teks biografi Dewi Sartika, bagian orientasi menjelaskan gambaran awal tentang sosok Dewi Sartika. Dewi Sartika disekolahkan oleh orang tua beliau meskipun bertentangan dengan adat masyarakat pribumi pada saat itu. Berikut adalah kutipan teks biografi bagian orientasi.

Dewi Sartika merupakan putri dari pasangan priyayi Sunda, yaitu Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Walaupun bertentangan dengan adat yang berlaku di masyarakat, kedua orang tuanya tetap menginginkan putrinya tersebut berpendidikan. Oleh karena itu, pasangan suami istri tersebut menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda

 

2.     Peristiwa (Masalah)

Bagian ini merupakan bagian inti dari sebuah teks biografi. Di dalamnya berisi tentang peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh biografi selama hidupnya. Di dalam bagian ini akan ditemukan nilai-nilai keteladanan yang bisa diteladani oleh pembaca. Kejadian atau peristiwa tersebut berupa pengalaman tokoh, kejadian yang pernah dialami sebelumnya, atau masalah yang pernah dihadapi dalam pencapaian tujuan atau target tertentu. Hal-hal yang menarik, mengagumkan, mengesankan, dan mengharukan yang pernah dialami tokoh juga diuraikan pada bagian ini. Dari semua peristiwa yang disampaikan, bagian ini akan memumculkan nilai yang bisa ditiru oleh pembaca.

Dalam contoh teks biografi Dewi Sartika, bagian peristiwa menjelaskan tentang pengalaman Dewi Sartika dalam mengembangkan pendidikan bagi kaum wanita pada masa itu. Berikut adalah kutipan teks biografi bagian peristiwa (masalah).

Sejak kecil Dewi Sartika memang sudah tertarik dengan dunia pendidikan. Sambil bermain bersama anak-anak pembantu kepatihan, ia juga mengajarkan mereka berbagai pelajaran, seperti membaca, menulis hingga bahasa Belanda. Beberapa benda, seperti papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting digunakannya sebagai media pembelajaran. Pada waktu itu, Dewi Sartika masih berusia sepuluh tahun dan tindakan yang dilakukannya sudah menghebohkan masyarakat Cicalengka. Hal ini disebabkan oleh pada waktu itu beberapa anak Cicalengka sudah bisa membaca, menulis, dan berbahasa Belanda.

Usia yang beranjak dewasa membuat Dewi Sartika optimis untuk menggapai cita-citanya. Meski mendapat dukungan dari paman, bukan berarti membuat dirinya mudah dalam mewujudkan cita-cita. Hal ini disebabkan oleh adat istiadat pada waktu itu sangat mengekang kaum wanita.

Akhirnya pada tahun 1902, Dewi Sartika mampu meyakinkan pamannya untuk mendirikan sekolah di belakang rumahnya di Bandung. Dirinya mengajar beberapa anggota keluarga perempuan dengan materi merendam, memasak, menulis, dan menjahit. Pada Januari 1904 setelah berkonsultasi dengan bupati Martanagara, Dewi Sartika akhirnya mendirikan Sekola Istri pertama se-Hindia Belanda.

....

 

3.     Reorientasi

Reorientasi ini bersifat opsional, maksudnya bagian ini mungkin ada atau tidak ada di dalam teks biografi. Reorientasi adalah salah satu bagian akhir dalam cerita atau penutup cerita tentang pandangan penulis terhadap tokoh yang diceritakan. Dalam bagian ini juga terdapat pesan dari penulis untuk meneladani sifat dan sikap dari tokoh biografi tersebut.

Dalam contoh teks biografi Dewi Sartika, bagian reorientasi menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diteladani dari seorang Dewi Sartika. Berikut adalah kutipan teks bioagrafi bagian reorientasi.

Sebagai generasi muda, kita tentu tidak boleh melupakan jasa Dewi Sartika dalam memperjuangkan pendidikan begitu saja. Tidak hanya sekadar mengenang, semoga kita juga dapat meneladani dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dengan Dewi Sartika. Harapannya tentu saja agar wajah pendidikan indonesia khususnya bagi kaum wanita lebih cerah.

 

D.     ASPEK KEBAHASAAN

Berikut penjelasan aspek kebahasaan teks biografi.

1.     Konjungsi (Kata Hubung)

Kata hubung (konjungsi) adalah kata yang digunakan untuk merangkaikan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Misalnya, sementara itu, selanjutnya, selain itu, dan lain-lain. Dalam teks biografi, konjungsi yang sering digunakan adalah konjungsi temporal. Konjungsi temporal adalah kata hubung yang menunjukkan urutan waktu kejadian, misalnya setelah itu, kemudian, lalu, ketika, saat, dan lain-lain. Tek biografi juga menggunakan konjungsi lain seperti dan, tetapi, karena, meskipun, dan lain-lain.

2.     Kata Kerja (Verba)

Kata kerja (verba) merupakan kata yang mengandung makna dasar oerbuatan, proses, atau keadaan yang bukan sifat. Dalam pola kalimat, verba berkedudukan sebagai predikat (P). Dilihat dari bentuk dan maknanya, verba terdiri atas nomina dasar dan nomina turunan. Perbedaannya dapat dilihat melalui penjelasan dan contoh berikut.

Ø  Verba dasar        à tidak mengalami proses morfologis (afiksasi/imbuhan dan reduplikasi/bentuk ulang). Contohnya: mandi, pergi, makan, jatuh, dll.

Ø  Verba turunan    à kata yang  mengalami proses morfologis (afiksasi/imbuhan, reduplikasi/bentuk ulang). Contohnya: berlayar, cuci muka, memotong-motong, dll.

 

3.     Kata Keterangan (Adverbia)

Kata keterangan (adverbia) merupakan kata yang memberika informasi berupa keterangan tempat, waktu, suasana, alat, cara, dll.

Ø Keterangan tempat      à di kantor, dari pasar, ke rumah, dll.

Ø Keterangan waktu       à pada sore hari, hari ini, kemarin, dua bulan lalu, dll.

Ø Keterangan alat            à aduk adonan dengan spatula, dll.

 

4.     Kata Ganti (Pronomina)

Promina atau kata ganti adalah jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Pronomina dibagi menjadi dua macam, yaitu pronomina persona dan pronomina nonpersona. Berikut adalah penjelasannya lebi rinci.

a.    Pronomina Persona

Pronomina persona berati kata ganti orang. Kata ganti jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu persona tunggal dan persona jamak.

Ø  Pronomina persona tunggal à aku, -ku, saya; Anda, kamu, -mu; dia, ia, -nya.

Contoh:

-          Saya datang terlambat hari ini.

-          Bukankah kamu pergi ke mall bersamanya?

Ø  Pronomina persona jamak à kita, kami; kalian; mereka.

Contoh:

-          Mereka saling bertukar pengalaman selama liburan.

-          Apa kita bisa memulai diskusi hari ini?

-          Mohon maaf, kami sudah mendiskusikannya kemarin.

b.    Pronomina Nonpersona

Pronomina nonpersona berarti kata ganti bukan orang. Kata ganti jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu nonpersona penunjuk dan nonpersona penanya.

Ø  Pronomina nonpersona penunjuk à ini, itu, sini, sana, situ.

Ø  Pronomina nonpersona penanya à 5W + 1 H

 

5.     Kalimat Simpleks dan Kompleks

-          Kalimat Simpleks (kalimat tunggal)  à kalimat yang terdiri atas satu klausa.

Contoh:

Saya pergi ke kota

   S       P           K              à terdiri atas satu klausa

 

-          Kalimat Kompleks (kalimat majemuk) à kalimat yang terdiri atas minimal dua klausa. Antarklausa tersebut dihubungkan oleh konjungsi (kata hubung).

Contoh:

Dino mencuci motor, sedangkan Lia memasak

   S             P         O           Konj         S          P               à terdiri atas dua klausa