Selasa, 01 September 2020

Teks Cerita Sejarah Kelas XII Semester Ganjil

 


A.     PENGERTIAN

Cerita sejarah adalah tulisan yang menjelaskan atau menceritakan tentang kejadian masa lalu (fakta) yang menjadi asal-usul sesuatu sehingga memiliki nilai sejarah. Cerita sejarah inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk membuat novel sejarah.

Cerita sejarah memuat fakta, yaitu sesuatu yang bisa dibuktikan kebenarannya. Sejarawan adalah orang yang tidak bisa bebas beranggapan terkait bahan-bahan sejarah tanpa adanya fakta. Sedangkan, penulis novel sejarah lebih bebas berekspresi dalam menciptakan karya-karyanya sehingga novel sejarah cenderung mengungkapkan makna berdasarkan sudut pandang penulis itu sendiri.

Novel sejarah adalah sebuah cerita yang berlatar tokoh dan keadaan sejarah yang benar-benar ada. Dalam novel, penulis cenderung menginterpretasikan tokoh di dalam novel tersebut berdasar sudut pandangnya sendiri. Jadi, novel sejarah berisi fakta sejarah dan imajinasi penulis. Oleh sebab itu, novel sejarah tergolong karya sastra yang tetap mengandung cerita fiksi di dalamnya.

Novel sejarah dibagi menjadi dua jenis. Berikut adalah penjelasannya.

1.    Novel yang mengangkat latar belakang dan peristiwa bersejarah, tetapi penulis menghadirkan tokoh-tokoh tertentu yang berkaitan dengan zaman itu.

2.    Novel yang mengangkattokoh-tokoh yang benar adanya sebagai pelaku sejarah dan mengubahnya sesuai dengan latar belakang cerita sejarah.

Beberapa contoh novel sejarah hasil karya penulis Indonesia adalah sebagai berikut.

-          Roro Mendut karya Mangunwijaya

-          Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer

-          Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

-          Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer

-          Tan: Sebuah Novel karya Hendri Teja

-          Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

-          Gajah Mada: Bergelut dengan Kemelut karya Langit Kresna Hariadi

 

B.     TUJUAN

Tujuan cerita sejarah berbeda dengan novel sejarah. Novel sejarah tidak menceritakan kembali sebuah kejadian sejarah, melainkan membuat pembaca menyadari hakikat sejarah yang sebenarnya melalui karya para penulis novel yang mengandung unsur-unsur estetik (keindahan).

 

C.      STRUKTUR

1.     Orientasi

Orientasi merupakan bagian pembukaan sebuah cerita sejarah. Biasanya menggambarkan secara umum (penyampaian topik) terkait cerita sejarah yang akan dibahas. Selain itu, di bagian awal juga berisi pengenalan tokoh bahkan latar ceritanya.

Sebagai contoh, novel berjudul Arus Balik karya Parmoedya Ananta Toer. Dalam kutipan diceritakan gambaran umum terkait latar cerita yang berada di sekitar pesisir laut Malaka. Perhatikan kutipan berikut!

Armada Portugis itu berlabuh jauh-jauh, terlalu jauh dari ermaga. Mentari pagi sedang mengusir halimun yang masih melembayung di seluruh Malaka. Layar kapal-kapal masih dalam keadaan tergulung. Tiang-tiangnya menuding langit yang tebal karena halimun. Dan matahari sendiri baru beberapa derajat dari permukaan bumi. Sinar suramnya yang berpantulan pada permukaan laut berpendar-pendar lesu.

Jauh di bandar Malaka sana, perahu-perahu dan kapal-kapal itu nasih tidur, berayun-ayun malas dibuai ombak. Hanya perahu-perahu nelayan kecil-kecil tampak hidup. Dan kalau pandang diangkat naik ke darat, mata akan menampak atap-atap injuk, ilalang, dan sirap dari bedeng-bedeng pelabuhan. Jalanan-jalanan tampak merupkan garis tipis kuning. Hanya beberapa orang kelihatan mondar-mandir. Semua pria.

 

2.     Rangkaian Kejadian

Rangkaian kejadian berisi tahapan urutan peristiwa yang berdasarkan sumber rekaman peristiwa yang berurutan dari awal peristiwa dalam sejarah tersebut. Tahapan struktur ini merupakan inti dari sejarah yang hendak diceritakan. Tahap ini biasanya disampaikan dalam urutan kronologis.

Sebagai contoh, novel berjudul Arus Balik karya Parmoedya Ananta Toer. Dalam kutipan diceritakan kronologi cerita bagaimana Portugis menyerang Kesultanan Malaka di pagi hari. Penyerangan tersebut diceritakan secara urut. Perhatikan kutipan berikut!

Lubang-lubang bulat pada lambung kapal-kapal Portugis mulai terbuka. Moncong-moncong meriam mulai bermunculan dari sebaliknya. Terdengar kemudian yang banyak diceritakan orang: pekik bersama meriam. Meriam-meriam bergelegaran. Api bersemburan dari moncong-moncongnya. Peluru besi beterbangan, membentuk kerucut udara dengan bola-bola besi sebagai matanya. Semua menuju ke bandar Malaka. Atap injuk, ilalang, dan sirap di bandar Malaka sana mulai terbakar. Api menjalar, berdansa dengan angin yang mulai datang bertiup. Asap hitam berkepulan seperti cendawan raksasa dengan beratnya naik pelahan ke atas, membikin kelam udara yang kelabu.

Ketenangan pagi itu lenyap dalam dentuman meriam, api, asap, dan kekacaubalauan. Perang Salib dari beberapa abad yang lalu kini tersasarkan pada Kesultanan Malaka. Perahu-perahu nelayan yang sedang pulang ke pangkalan berhamburan lari tak jadi menuju ke bandar. Perahu dan kapal lain yang tertidur hangat dalam belaian matahari pagi, nyenyak dalam ayunan ombak, mulai menggeragap, menaikkan layar masing-masing, berhamburan mencoba melarikan diri dan keselamatan.

 

3.     Komplikasi

Komplikasi merupakan bagian cerita sejarah yang memunculkan konflik, lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konflik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.

Sebagai contoh, novel berjudul Arus Balik karya Parmoedya Ananta Toer. Dalam kutipan diceritakan konflik yang timbul, yaitu ketika kaal-kapal Portugis menyerang pesisir Malaka menggunakan tembakan meriam sehingga para prajurit pun gugur dalam penyerangan itu. Penyerangan tersebut diceritakan secara urut. Perhatikan kutipan berikut!

Bola-bole besi dari kapal Portugis tak membiarkan mereka lolos. Dalam hanya beberapa bentar perahu dan kapal kayu itu pun pada pecah atau tenggelam, hilang dari penglihatan, ditelan laut. Kapal-kapal dari armada kebanggaan Malaka masih juga bergerak, seakan masih terbuai dalam mimpi indah. Tak kurang dari sebelas jumlahnya. Konon kabarnya sebagian besar dari kesatuan ini dulu biasa dipimpin oleh Laksamana Hang Tuah. Dan tak lebih dari 30 bentar, armada kebanggan itu pun seluruhnya tenggelam ke dasar laut. Kebakaran sedang menjadi-jadi di darat sana. Dari laut tampak jalanan-jalanan pasir kuning pelabuhan mulai hidup dengan orang-orang yang berlarian kebingungan. Di antara mereka tampak juga wanita yang menarik-narik atau menggendong anak. Mereka lari meninggalkan daerah pelabuhan. Sebarisan prajurit bertombak muncul di dermaga, berhenti pada akhir jalanan yang terputus oleh laut, mengacung-acungkan senjatanya ke arah armada Portugis. Sepucuk laras meriam ditujukan kepada mereka. Aba-aba dentuman. Sebuah bola besi membentuk kerucut di udara, terbang menyambari barisan prajurit bertombak itu. Mereka buba berlompatan dan berlarian, hilang dari pemandangan. Yang tersisa hanya bangkai-bangkai dan tombaknya, tulang, dan serpihan daging.

 

4.     Resolusi

Resolusi merupakan bagian akhir dari sebuah cerita sejarah. Bagian ini berisi tentang pemecahan masalah atau solusi dari konflik yang terjadi di bagian komplikasi. Pada bagian ini, memiliki cara pengungkapan yang bermacam-macam. Ada yang diceritakan dengan panjang dan ada pula yang singkat.

Sebagai contoh, novel berjudul Arus Balik karya Parmoedya Ananta Toer. Dalam kutipan diceritakan akhir dari sebuah cerita sejarah berupa gugurnya para prajurit Malaka karena ktidakseimbangan senjata saat melawan sekutu. Penyerangan tersebut diceritakan secara urut. Perhatikan kutipan berikut!

Tak ada lagi barisan muncul. Bandar telah jadi lautan api. Meriam-meriam berhenti menggonggong. Kapal-kapal Portugis mulai menurunkan sekoci. Serdadu-serdadunya pada turun. Seperti iring-iringan semut, sekoci-sekoci itu menuju ke bandar.

Kini bala tentara Malaka mulai mengisi semua jalanan bandar. Tombak dan pedang mereka gemerlapan tertimpa matahari yang telah berhasil mengusir halimun. Di antara letusan musket dari sekoci terdengar sorak-sorai mereka. Kembali meriam-meriam berdentuman. Peluru beterbangan dan menyambari mereka, tak menggubris tak menghormati  tombak dan pedang dan sorak sorai. Juga tembakan musket yang menggebu-gebu, menghalau, membunuh, menumpas. Jalanan kuning di bandar sana makin kelas disirami darah dan disebari serpihan daging dan tulang para prajurit yang tiada dapat berbuat sesuatu. Yang tersisa melarikan diri. Lenyap di balik lidah api dan cendawan asap.

 

D.     ASPEK KEBAHASAAN

1.     Pronomina

Promina atau kata ganti adalah jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Pronomina dibagi menjadi dua macam, yaitu pronomina persona dan pronomina nonpersona. Berikut adalah penjelasannya lebi rinci.

a.    Pronomina Persona

Pronomina persona berati kata ganti orang. Kata ganti jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu persona tunggal dan persona jamak.

Ø Pronomina persona tunggal à aku, -ku, saya; Anda, kamu, -mu; dia, ia, -nya.

Contoh:

-       Saya datang terlambat hari ini.

-       Bukankah kamu pergi ke mall bersamanya?

Ø Pronomina persona jamak à kita, kami; kalian; mereka.

Contoh:

-       Mereka saling bertukar pengalaman selama liburan.

-       Apa kita bisa memulai diskusi hari ini?

-       Mohon maaf, kami sudah mendiskusikannya kemarin.

b.    Pronomina Nonpersona

Pronomina nonpersona berarti kata ganti bukan orang. Kata ganti jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu nonpersona penunjuk dan nonpersona penanya.

Ø Pronomina nonpersona penunjuk à ini, itu, sini, sana, situ.

Ø Pronomina nonpersona penanya à 5W + 1 H

 

2.     Konjungsi Temporal

Konjungsi temporal adalah kata hubung yang berkaitan dengan urutan waktu. Kata hubung ini berfungsi menata urutan terjadinya peristiwa sejarah yang diceritakan. Misal: kini, lalu, kemudian, ketika, saat itu, dsb.

Contoh:

Kini bala tentara Malaka mulai mengisi semua jalanan bandar.

 

3.     Kata Keterangan

Kata keterang adverbia adalah sebuah jenis kata yang merujuk pada kata petunjuk, seperti: petunjuk waktu, tempat, kejadian, dll. Ada beberapa jenis kata keterangan, antara lain: keterangan waktu, cara, alat, tempat, syarat, dll.

Contoh:

Jauh di bandar Malaka sana, perahu-perahu dan kapal-kapal itu masih pada tidur, berayun-ayun malas diombak.

 

4.     Kata Kerja Material

Kata kerja material atau verba material berfungsi sebagai petunjuk sebuah perbuatan yang nyata dan dilakukan langsung oleh partisipan atau pelaku.

Contoh:

Di antara mereka tampak juga wanita yang menarik-narik atau menggendong anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar