A.
PENGERTIAN
Teks eksposisi adalah sebuah karangan berbentuk paragraf yang di dalamnya
terkandung sejumlah informasi dan pengetahuan terhadap suatu topik
permasalahan. Teks eksposisi disajikan secara singkat, padat, dan jelas. Topik
yang disajikan dalam teks eksposisi berisi permasalahan yang dikaji berdasarkan
sudut pandang penulis. Dalam hak tersebut, tugas penulis adalah berusaha
membuktikan, mengevaluasi, atau mengklarifikasi permasalahan tersebut.
Teks eksposisi ini tergolong pada karya ilmiah atau nonfiksi karena ditulis
secara objektif (kenyataan yang ada/fakta). Gaya bahasa yang digunakan biasanya
informatif,, yaitu bahasa yang bersifat memberi informasi atau pemberitaan
tanpa pengaruh subjektivitas dan perasaan emosional penulisnya. Penulis berusaha
memaparkan sejelas-jelasnya topik permasalahan yang sedang dibahas sehingga
pembaca dapat memahami maksud yang ingin disampaikan penulis.
Berdasar uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa teks eksposisi adalah
sebuah karang yang memaparkan, menjelaskan menyampaikan, mengajarkan, dan
menerangkan suatu topik permasalahan tanpa disertai ajakan atau desakan agar
pembaca dapat menerima atau mengikutinya. Pada umumnya, teks eksposisi dapat
ditemui dalam tulisan-tulisan ilmiah, seperti editorial, esai, dan prosedur. Teks
eksposisi harus didasarkan pada perincian yang khusus dan cermat, penalaran,
dan penggunaan contoh.
B.
TUJUAN
Teks eksposisi berfungsi untuk memaparkan atau menjelaskan suatu informasi.
Tujuan tersebut mudah dipahami berdasarkan makna eksposisi yang berarti
“menyingkap” atau “membongkar”. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya,
teks eksposisi berisi informasi-informasi yang bersifat memperluas wawasan
(pengetahuan) pembaca tentang topik permasalahan tertentu.
C.
KARAKTERISTIK (CIRI-CIRI)
Sebagai sebuah karangan, teks eksposisi memiliki
ciri-ciri sebagai berikut.
1. Memaparkan pendapat, gagasan, atau keyakinan penulis terhadap suatu masalah
dalam bidang tertentu.
2. Uraian bersifat objektif, yakni semata-mata untuk menambah pengetahuan
pembaca tanpa didasari maksud tertentu (subjetivitas) dari penulis.
3. Penjelasan diperkuat melalui faka yang dilengkapi dengan data angka, peta,
grafi, statistik, gambar, atau bagan sebagai bukti ilustrasi.
4. Menggali informasi melalui analisis.
5. Karangan diakhiri dengan penegasan, bukan ajakan atau permintaan agar
mendukung opini penulis.
6. Menggunakan ragam bahasa yang menunjukkan sikap dan sudut pandang penulis
serta adanya hubungan sebab akibat.
Teks eksposisi berisi argumen yang diperkuat
fakta dari penulis. Argumen adalah alasan (berupa bukti data) yang dipakai
penulis untuk memperkuat pendapat atau gagasannya. Alasan tersebut disajikan
penulis dalam bentuk opini.
1.
Fakta
Fakta adalah informasi yang ditulis berdasarkan data yang ada di lapangan.
Oleh sebab itu, informasi yang diperoleh dari lapangan bersifat objektif.
Objektif berarti sesuai dengan kenyataan yang ada tanpa unsur rekayasa sedikit
pun. Fakta dapat diperoleh melalui cara-cara sebagai berikut.
1) Observasi, yakni pengamatan di lapangan, menyaksikan sendiri berbagai temuan
yang ada di lapangan.
2) Wawancara, yakni berdialog dengan narasumber yang ahli dalam bidangnya
untuk mendapatkan informasi sesuai yang diinginkan.
3) Dokumentasi, yakni mendeskripsikan berbagai dokumentasi yang memberikan
informasi sesuai yang diinginkan.
2.
Opini
Opini merupakan hasil pemikiran seseorang. Oleh sebab itu, bukan murni
fakta di lapangan sehingga bersifat subjektif.
D.
STRUKTUR (UNSUR-UNSUR)
Teks eksposisi disusun dengan struktur sebagai berikut.
1.
Tesis
Tesis adalah bagian yang berisi pendapat secara umum tentang topik
permasalahan yang dibahas. Pendapat tersebut bisa diperoleh dari pemikiran
pribadi penulis atau orang lain. Sebagai contoh, bacaan teks eksposisi yang
berjudul Teknologi Tepat Guna Berdayakan
Ekonomi Keluarga yang menjelaskan tentang kesempatan menerapkan TTG bagi
masyarakat pedesaan. Berikut adalah kutipan contoh bagian tesis dari sebuah teks
eksposisi.
Program kewirausahaan untuk perluasan kesempatan kerja yang dilakukan lewat
terapan teknologi tepat guna (TTG) dapat memberdayakan ekonomi rumah tangga.
Kegiatan ini banyak dimanfaatkan, terutama oleh masyarakat pedesaan. Ada
beberapa alasan dan contoh mengapa TTG
dapat memberdayakan ekonomi keluarga.
2.
Argumen
Argumen adalah bagian teks eksposisi yang memuat alasan disertai bukti data
yang dapat mendukung opini penulis. Lebih jelasnya, argumen menjelaskan lebih
rinci dari tesis (pendapat) yang juga memaparkan kebenarannya disertai
fakta-fakta sebagai pendukung. Di bagian inilah, data berupa angka, gambar,
grafik, statistik atau bagan disajikan oleh penulis. Sebagai contoh, bacaan
teks eksposisi yang berjudul Teknologi
Tepat Guna Berdayakan Ekonomi Keluarga yang menjelaskan tentang bukti
deskripsi dari manfaat TTG bagi masyarakat pedesaan. Berikut adalah kutipan
contoh bagian argumen dari sebuah teks eksposisi.
Pertama, program kewirausahaan terapan TTG pembuatan susu kedelai dapat
meningkatkan taraf hidup tanpa mengurangi tenaga kerja. Adanya terapan
teknologi tepat guna akan meningkatkan nilai tambah dengan tenaga kerja yang
tetap, tetapi penghasilan bisa bertambah.
Kedua, program ini juga dapat meningkatkan produktivitas. Produk kedelai
yang diolah dengan TTG akan menghasilkan kualitas susu kedelai yang lebih baik
dalam waktu singkat.
Ketiga, TTG dapat juga digunakan untuk menggali potensi suatu wilayah untuk
meningkatkan ekonomi masyarakatnya. TTG dapat menjadi sarana untuk menciptakan
peluang kerja mandiri dan memperluas kesempatan kerja.
3.
Penegasan Ulang
Penegasan ulang adalah bagian yang berisi penguatan atau penegasan kembali
dari tesis dan argumen yang disampaikan dengan kalimat yang berbeda oleh
penulis. Dengan kata lain, bagian ini adalah simpulan. Dalam bagian akhir ini,
penegasan ulang tidak mengandung ujaran-ujaran yang berbau ajakan atau
persuasif (memengaruhi pembaca). Sebagai contoh, bacaan teks eksposisi yang
berjudul Teknologi Tepat Guna Berdayakan
Ekonomi Keluarga. Berikut adalah kutipan contoh bagian penegasan ulang dari
sebuah teks eksposisi.
Oleh karena itu, program tersebut perlu dikembangkan karena terbukti dapat
meningkatkan taraf hidup masyarakat.
E.
ASPEK KEBAHASAAN
Aspek kebahasaan dalam teks eksposisi juga penting diperhatikan karena
menjadi sarana penulis untuk menyampaikan ide, gagasan, pikiran, informasi,
atau pun suatu maksud.
1.
Pronomina
Promina atau kata ganti
adalah jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Pronomina dibagi
menjadi dua macam, yaitu pronomina persona dan pronomina nonpersona. Berikut
adalah penjelasannya lebi rinci.
a. Pronomina Persona
Pronomina persona berati kata ganti orang.
Kata ganti jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu persona tunggal dan persona
jamak.
Ø
Pronomina persona
tunggal à aku, -ku, saya; Anda, kamu, -mu; dia, ia, -nya.
Contoh:
-
Saya datang terlambat hari ini.
-
Bukankah kamu pergi ke
mall bersamanya?
Ø
Pronomina persona jamak à kita, kami; kalian; mereka.
Contoh:
-
Mereka saling bertukar pengalaman selama liburan.
-
Apa kita bisa memulai diskusi hari ini?
-
Mohon maaf, kami sudah
mendiskusikannya kemarin.
b. Pronomina Nonpersona
Pronomina nonpersona berarti kata ganti bukan
orang. Kata ganti jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu nonpersona penunjuk
dan nonpersona penanya.
Ø
Pronomina nonpersona
penunjuk à ini, itu, sini, sana, situ.
Ø
Pronomina nonpersona
penanya à 5W + 1 H
2.
Kata Leksikal
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), leksikal berkaitan dengan kata; berkaitan dengan
leksem; berkaitan dengan kosakata. Jadi, makna leksikal adalah makna yang
berkaitan dengan kata, leksem, dan kosakata. Pada umunya, kata leksikal dibagi
menjadi empat. Berikut penjelasannya.
a. Nomina (Kata Benda)
Nomina merupakan kata yang mengacu pada kata
benda, baik secara nyata maupun abstrak. Dalam pola kalimat, nomina ini
biasanya berkedudukan sebagai subjek (S). Dilihat dari bentuk dan maknanya,
nomina ada yang nomina dasar dan nomina turunan. Perbedaannya dapat dilihat
melalui penjelasan dan contoh berikut.
Ø
Nomina dasar à kata yang tidak mengalami proses morfologis
(afiksasi/imbuhan, reduplikasi/bentuk ulang). Contohnya: rumah, meja, kursi,
lemari, dll.
Ø
Nomina turunan à kata yang mengalami proses morfologis (afiksasi/imbuhan,
reduplikasi/bentuk ulang). Contohnya: perbuatan, pembelian, kekuatan, pepohonan,
bunga-bunga, dll.
b. Verba (Kata Kerja)
Verba merupakan kata yang mengandung makna
dasar oerbuatan, proses, atau keadaan yang bukan sifat. Dalam pola kalimat,
verba berkedudukan sebagai predikat (P). Dilihat dari bentuk dan maknanya,
verba terdiri atas nomina dasar dan nomina turunan. Perbedaannya dapat dilihat
melalui penjelasan dan contoh berikut.
Ø Verba dasar à tidak mengalami proses morfologis
(afiksasi/imbuhan dan reduplikasi/bentuk ulang). Contohnya: mandi, pergi,
makan, jatuh, dll.
Ø Verba turunan à kata yang
mengalami proses morfologis (afiksasi/imbuhan, reduplikasi/bentuk
ulang). Contohnya: berlayar, cuci muka, memotong-motong, dll.
c. Adjektiva (Kata Sifat)
Adjektiva merupakan kata yang dipakai untuk
mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, dan binatang. Contohnya: cantik,
ganteng, baik, dingin, hangat, dll.
d. Adverbia (Kata Keterangan)
Adverbia merupakan kata yang memberika
informasi berupa keterangan tempat, waktu, suasana, alat, cara, dll.
Ø Keterangan tempat à di kantor, dari pasar, ke rumah, dll.
Ø Keterangan waktu à pada sore hari, hari ini, kemarin, dua bulan lalu, dll.
Ø Keterangan alat à aduk adonan dengan spatula, dll.
3.
Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya
melakukan pekerjaan (predikat). Berdasarkan posisi objek (O), kalimat aktif
dibagi menjadi dua, yakni kalimat aktif transitif dan kalimat aktif
intransitif.
a.
Kalimat Aktif Transitif
Kalimat aktif yang harus memiliki objek (O)
sehingga dapat diubah menjadi kalimat pasif. Selain itu, predikat (P) pada
kalimat jenis ini biasanya berimbuhan me-, men-, meng-.
Contoh:
Ø Saya membersihkan rumah setiap sore.
Saya= S, membersihkan rumah=P, setiap sore= K
tempat
Ø Setiap siswa harus memiliki sikap terpuji.
Setiap siswa= S, harus memiliki= P, sikap
terpuji= O
b.
Kalimat Aktif
Intransitif
Kalimat aktif yang tidak memiliki objek (O)
sehingga tidak dapat diubah menjadi bentuk pasif. Selain itu, predikat (P) pada
kalimat jenis ini biasanya berimbuhan ber-.
Contoh:
Ø Aisyah menangis.
Asiyah= S, menangis= P.
Ø Aku berjalan ke sekolah.
Aku= S, berjalan= P, ke sekolah= K tempat
Ø Balon itu mengudara sejak pagi.
Balon itu = S, mengudara= P, sejak pagi= K
waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar